============================================================================
Saat membuka drive portable untuk mencari data tugas di masa kuliah dulu untuk dikirimkan ke teman, disitulah aku menemukan kembali draft-draft tulisan di saat masa putih abu-abu. Tulisan ini begitu menyentuh relung hatiku saat ku baca kembali hingga tanpa sadar menetaskan air mata di pipi ini. Menyeruakkan rasa bersalah dan mungkin dosa-dosa yang telah aku perbuat pada orang tuaku selama ini.
Silahkan disimak tulisan di masa putih abu-abu ku...
PENGALAMAN YANG TAK DAPAT TERLUPAKAN KETIKA BERSAMA AYAH
Pengalamanku ketika bersama ayah yang tidak pernah dapat ku lupakan adalah ketika aku masih duduk di sekolah menengah pertama. Saat itu aku sekolah sangat jauh dari rumah ku sehingga ayahku harus mengantar dan menjemput ku ke sekolah dengan sepeda motornya, dari rumah ke sekolah ku kira-kira berjarak sekitar 17 km. Syukurnya ayah bekerja di kota sehingga ayah ku tidak capek bolak-balik, tetapi sebenarnya walau kantor ayah ku berada di kota yang sama, jarak kantor ayah dan sekolah cukup jauh. Aku sangat kagum dengan ayah ku, karena dia rela membagi waktu berangkat kantornya untuk mengantar dan menjemput ku sekolah walau itu kewajibannya dia tidak pernah mengeluh kepada ku ataupun meminta ku untuk pindah dari sekolah itu.
Sebenarnya ayah ingin aku sekolah di dekat rumah saja, tetapi karena aku mempunyai tekad untuk bersekolah yang terbaik akhirnya ayah pun mengalah demi aku. Aku pulang sekolah pukul 17.00 wita, ayah ku tetap sabar menunggu di sebuah warung di dekat sekolah untuk menjemput ku walau sebenarnya ayah ku telah pulang kantor pada pukul 16.00 wita, sehingga dia menunggu di warung itu selama satu jam setiap harinya. Dengan sabarnya dia setiap harinya menunggu ku.
Pernah pada suatu hari ayah telat untuk menjemput ku, aku terus menelpon sambil marah-marah tanpa memikirkan apa yang menyebabkan ayah ku terlambat. Ternyata ayah ku ada rapat penting di kantor, aku sangat malu pada diriku karena apa yang telah ku perbuat. Selama aku menunggu ayah menjemput, terlintas bayangan saat-saat ayahku sedang menunggu di warung dekat sekolah dengan sabarnya dan ketika dari kejauhan ayahku telah tersenyum ramah padaku menandakan bahwa untuk pulang ke rumah. Aku sangat malu sekali pada diriku, apa yang telah aku lakukan tadi. Ayah ku setiap hari telah dengan sabarnya menunggu ku setiap harinya di sini, tetapi aku yang baru menunggu selama setengah jam langsung marah-marah saja tanpa alasan. Sehingga setelah kejadian itu aku mulai mengenal sosok keteguhan dan kesabaran seorang ayah yang sangat mencintai dan mendukung cita-cita anaknya. Ayah yang selain berjuang mencari nafkah bagi keluarga juga melindungi, merawat, serta mengasihi anak-anaknya. Bagiku ayah juga sangat berarti dan berperan dalam kehidupan ku. Walau ayah sering ku bentak dan sering melanggar peraturannya, ayah tetap dengan sabar membimbing dan mendukung apa cita-cita ku.
Kisah ini mungkin juga pernah di alami oleh anak-anak yang lain ketika bersekolah jauh dari rumah mereka. Problema ini hadir mungkin karena fasilitas dan kesetaraan sekolah yang belum merata di seluruh Indonesia. Sehingga banyak anak-anak yang memilih untuk sekolah jauh dari rumah, namun mereka bisa mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak dan sesuai dengan apa yang mereka impikan.
0 komentar:
Posting Komentar